oleh

Punya Sertifikat Hak Paten, Soto Lamongan dan Nasi Boran Sah Jadi Milik Kabupaten Lamongan

Kabarterjitu.com | Lamongan – Dua kuliner khas Lamongan yakni Soto Lamongan dan Nasi Boran saat ini telah resmi mengantongi sertifikat hak paten dari Kemenkumham RI. Pengurusan hak paten kekayaan kuliner tersebut diperoleh Pemerintahan Kabupaten Lamongan setelah melalui proses panjang. Selain dua kuliner tersebut Pemerintahan Kabupaten juga tengah mengajukan 2 kuliner lainnya asal Lamongan yang sudah terkenal luas, yakni tahu campur dan wingko Babat.

Diketahui, keberadaan 2 kuliner khas Lamongan tersebut memang sejak lama telah membekas di benak masyarakat, bukan hanya di Lamongan, tapi juga namanya cukup populer di Nusantara.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Muhammad Zamroni mengatakan, bahwa dengan diterimanya sertifikat hak paten atas 2 kuliner khas Lamongan ini, maka masyarakat Lamongan patut berbangga diri, karena keduanya merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner Lamongan.

“Setelah kami ajukan beberapa waktu lalu, akhirnya Soto Lamongan dan Nasi Boran menerima sertifikat hak paten sebagai salah satu kekayaan kuliner dari Lamongan,” kata Kepala Disperindag Lamongan Muhammad Zamroni, Rabu (22/09)

Zamroni menuturkan, hak paten atas Soto Lamongan dan Nasi Boran ini sengaja diajukan demi menjaga kemungkinan agar tidak diklaim oleh daerah atau bahkan negara lain. Mengenai pengajuannya, imbuh Zamroni, keduanya didaftarkan dan diajukan ke Dinas Perindustrian Jatim dulu, untuk kemudian diteruskan ke Kemenkumham RI.
“Proses pendaftaran produk kuliner untuk mendapatkan hak paten ini memang membutuhkan waktu yang relatif lama, kurang lebih memakan waktu hampir 1 tahun,” tuturnya.

Tak hanya itu, Zamroni juga menyebut, bahwa serangkaian proses harus dilalui sebelum sertifikat hak paten itu turun. Adapun proses tersebut meliputi, adanya waktu sanggah, produk atau penemuan semacam ini belum pernah dipublikasi oleh pihak lain (baik dalam maupun luar negeri), dan didukung dengan data pendiskripsian, klaim, abstrak, surat pernyataan kepemilikan, dan lain-lain.

“Setiap produk yang didaftarkan dan diajukan ini tentu memiliki kekhasan tersendiri. Seperti nasi boranan di daerah lain kan ndak ada, meski ada yang jual di tempat lain pun citarasanya beda dengan yang ada di Lamongan, Nasi Boranan di sini bumbunya beda, ikannya juga khas. Begitu juga dengan Soto Lamongan yang beda dari daerah yang lain, mulai dari racikan dan koyanya,” jelasnya.

Zamroni memaparkan, bahwa Nasi Boran adalah nasi khas Lamongan yang ada sejak dulu, selain hanya bisa ditemukan di Lamongan, resep bumbu nasinya tersebut juga merupakan warisan turun temurun dari leluhur. Menurutnya, bumbu nasi boran khas Lamongan sangat memanjakan lidah peminatnya, apalagi jika disertai lauk ikan sili, rasanya sangat membekas.

Berdasarkan dari data yang dihimpun, jumlah penjual Nasi Boran yang ada di Lamongan kini lebih dari 175 orang, penjualnya pun hanya berasal dari Desa Sumberjo Kecamatan/Kabupaten Lamongan, lebih tepatnya dari dusun Kaotan dan Sawo. “Sesuai dengan sertifikat hak paten tersebut, nasi boran adalah Nasi yang dibumbuhi sambal yang mengandung ikan sili, bandeng, udang, ikan gabus, ayam, tahu, tempe, dan lain-lain. Ia hanya bisa ditemukan di Lamongan. Para penjualnya pun rata-rata mereka berasal dari Desa Sumberjo,” ungkap Zamroni.

Sementara untuk Soto Lamongan, Zamroni menambahkan, bahwa ciri khas yang tak ada di tempat lain adalah taburan koya yang ada di dalamnya. “Soto Lamongan berisi irisan ayam, jeroan ayam, kulit ayam, telur, yang diberi sambal dan jeruk
nipis, serta ada taburan koya yang terdiri dari bawang putih dan krupuk udang,” tandasnya.

Zamroni menambahkan, selain 2 kuliner khas Lamongan yang memiliki hak paten resmi itu, saat ini Lamongan juga tengah mengajukan 2 kuliner lainnya asal Lamongan yang sudah terkenal luas, yakni tahu campur dan wingko Babat.
“Saat ini kami juga sedang proses mengajukan 2 kuliner lagi yang berasal dari Lamongan, yakni tahu campur dan wingko Babat. Semoga beberapa kuliner khas Lamongan bisa ada hak patennya semua, sehingga bisa terjaga dan tidak di klaim oleh pihak lain,” pungkasnya.(Rkt*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed