oleh

Peran Latief Hendraningrat dalam Proklamasi Kemerdekaan RI

Biografi Latief Hendraningrat

Latief Hendraningrat memiliki nama lengkap Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat. Ia adalah keturunan dari  Raden Mas Mochamad Said Hendraningrat dan Raden Ajeng Haerani.

Ia lahir di Jakarta pada tanggal 15 Februari 1911, dan meninggal di usianya yang ke-72 tahun (tanggal 14 Maret 1983). Ia merupakan cucu dari Bupati Lamongan ke-21 yakni Raden Mas Djojo Dirono, sehingga Ia juga menurunkan darah dari Ken Arok, Jaka Tingkir, dan Mangkunegara I.

Perjalanan Karier Latief Hendraningrat

Latief Hendraningrat menjadi petugas pengibar sang saka merah putih pada saat proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Ia mengibarkan bendera merah putih bersama Soehoed Sastro Koesoemo. Pada saat mengibarkan bendera Indonesia, Latief Hendraningrat memakai seragam tentara Jepang karena ia menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) yang merupakan bentukan Jepang.

Latief Hendraningrat tercatat menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas keamanan pada saat proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No.56, Jakarta Pusat. Dalam hal ini, Ia menggantikan tugas atasannya Kasman Singodimejo yang pada saat itu sedang berada di Bandung. Ia juga merupakan orang yang berjasa dalam mempercepat proses kemerdekaan dan memiliki andil yang sangat besar dalam memperlancar proses upacara kemerdekaan RI.

Latief Hendraningrat ikut serta dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Usai kehadiran sekutu dalam hal ini Belanda tidak lama setelah peristiwa proklamasi kemerdekaan. Ia sempat menduduki posisi Komandan Militer Kota (KMK) di Yogyakarta.

Yogyakarta pada saat itu menjadi Ibu kota RI dan pertempuran paling genting terjadi di sana. Latief Hendraningrat berhubungan baik dengan Panglima Jenderal Soedirman dan Ia juga ikut berjasa dalam merumuskan taktik gerilya dan perencanaan Serangan Umum Satu Maret pada tahun 1949.

Seusai Belanda menyerahkan kedaulatan seluruhnya secara resmi kepada Indonesia pada tahun 1950, Latief masih melanjutnya kariernya di TNI-AD dan 2 tahun setelah itu, Ia diberi mandat selaku atase militer RI di Kedutaan Indonesia untuk Filipina. Tidak lama setelah itu Ia pindah ke Washington sampai dengan tahun 1956.

Kembali ke tanah air, Latief Hendraningrat dipercaya menjadi pimpinan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD). Sebelum pensiun dari TNI-AD, Ia sempat dipercaya menjadi rektor pertama IKIP Jakarta yang saat ini menjadi Universitas Negeri Jakarta selama 1 tahun yakni tahun 1965-1966.

Pada tanggal 14 Maret 1983 pukul 21.00 WIB, Latief Hendraningrat meninggal dunia saat usianya 72 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed